Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Breaking News Memuat berita...

Ponton Selam Menghancurkan Mangrove Tempilang, Nasib Nelayan di Ujung Tanduk


 
BANGKA BARAT — Ada satu pertanyaan sederhana yang terucap dari bibir seorang nelayan tua di pesisir Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.
 
"Kalau tempat rebonnya rusak, sungkur ini mau dibawa ke mana?"
 
Ali, 56 tahun, tidak sedang membicarakan sebilah alat tangkap semata. Ia sedang membicarakan hidupnya.
 
Selama puluhan tahun, ia mengenal laut lewat pasang surut, angin, lumpur, akar mangrove, dan gerak rebon. Namun kini ruang hidup yang selama ini menjadi sumber penghidupan itu terancam tergerus aktivitas pertambangan menggunakan ponton selam.
 
Bagi Ali, persoalannya bukan sekadar apakah timah masih tersimpan di dasar lumpur. Persoalannya adalah apakah rebon masih ada di atasnya.
  
Jejak di Air Lintang
 
Dokumentasi lapangan pada 31 Agustus 2026 memperlihatkan kawasan mangrove Air Lintang yang masih berwarna hijau di permukaan — tegakan pohon, hamparan lumpur, akar-akar napas yang mencuat, serta genangan air pasang. Namun di balik tampak hijau itu, tersembunyi kekhawatiran yang mendalam. Aktivitas pengerukan yang diduga berlangsung di kawasan tersebut dikhawatirkan mulai mengubah tatanan ekologis yang selama ini menjaga kehidupan pesisir.
 
Perlu ditegaskan: catatan visual ini belum serta-merta membuktikan siapa pelaku, status perizinan, maupun unsur pelanggaran hukumnya. Semua itu memerlukan verifikasi dan pemeriksaan resmi dari instansi berwenang. Yang sudah jelas adalah kegelisahan masyarakat yang hidup paling dekat dengan perubahan tersebut.
 
"Kalau Tempat Rebon Hilang, Ke Mana Kami Pergi?"
 
"Saya sudah puluhan tahun mencari rebon pakai sungkur. Laut dan mangrove ini bukan baru saya kenal sekarang. Dari dulu di sinilah kami mencari makan. Tapi sekarang tempat kami mencari rebon semakin terganggu. Kalau tempatnya rusak, sungkur ini mau saya bawa ke mana?" ujar Ali, Kamis (15/9/2026).
 
Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyuarakan keresahan yang besar. Jika mangrove rusak, yang hilang bukan sekadar pohon — hilang habitat, hilang biota, hilang rebon, hilang penghasilan, dan perlahan-lahan hilang pula warisan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
 
Kerusakan ekosistem tidak selalu tampak berupa pohon tumbang. Ia bisa berjalan sunyi: aliran air berubah, sedimen bergeser, tempat berlindung biota menyempit, hingga tangkapan perlahan menyusut tanpa disadari. Hingga suatu hari nelayan menyadari sesuatu yang sangat sederhana: hasil tangkapan tidak lagi sebanyak dulu.
 
"Kami nelayan kecil tidak punya banyak pilihan. Tidak punya mesin besar, tidak punya modal besar. Hanya mengandalkan laut dan alat sederhana. Kalau kawasan ini terganggu karena ponton, kami yang paling dulu merasakan akibatnya," tambahnya.
 
Pengetahuan membaca pasang, mengenali lumpur, mengetahui di mana rebon berada — itu bukanlah ilmu yang tertulis di buku

Sumber Belva
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak