Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Breaking News Memuat berita...

TAMBANG TIMAH RAPAT KE BIBIR PANTAI PASIR PADI, IKON WISATA PANGKALPINANG TERANCAM RUSAK TOTAL

PANGKALPINANG – Keindahan dan fungsi kawasan wisata Pantai Pasir Padi yang menjadi ikon utama pariwisata Kota Pangkalpinang, kini terancam serius. Aktivitas penambangan timah yang beroperasi di perairan sekitar kawasan tersebut dikabarkan semakin meluas dan mendekat ke garis pantai. Pantauan langsung di lokasi menunjukkan, sejumlah ponton dan peralatan penambangan kini terlihat berjejer dan beroperasi hanya dalam jarak yang sangat dekat dari bibir pantai, mengubah pemandangan yang dulunya indah menjadi kawasan industri tambang.
 
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam sekaligus kemarahan masyarakat luas, baik warga sekitar maupun pelaku usaha pariwisata. Pasalnya, Pantai Pasir Padi selama puluhan tahun menjadi wajah dan kebanggaan masyarakat Pangkalpinang, tujuan utama wisatawan lokal, nusantara, hingga mancanegara. Kini, pemandangan laut yang seharusnya bersih dan asri justru terhalang oleh alat-alat berat, ponton, serta tumpukan material hasil galian yang terlihat jelas dari pinggir pantai.
 
"Sungguh sangat disayangkan. Dulu orang datang ke sini untuk menikmati deburan ombak, pasir putih, dan pemandangan laut yang indah. Sekarang yang terlihat justru ponton-ponton tambah yang makin lama makin merapat ke daratan. Rasanya hati ini sakit melihat aset daerah yang seharusnya dijaga, malah dirusak pelan-pelan di depan mata," ungkap salah satu warga yang telah puluhan tahun tinggal di Kelurahan Air Itam, dengan nada keprihatinan yang tinggi.
 
Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Abrasi
 
Para pengamat lingkungan dan warga menilai, keberadaan aktivitas tambang yang beroperasi sangat dekat dengan garis pantai ini memiliki risiko besar terhadap kerusakan ekosistem pesisir. Proses pengerukan dasar laut yang dilakukan dalam skala besar dikhawatirkan akan mengubah kontur dasar laut, merusak terumbu karang, serta menghilangkan sumber makanan ikan dan biota laut lainnya.
 
Dampak jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman abrasi pantai yang semakin parah. Dengan struktur dasar laut yang berubah akibat penggalian, kekuatan gelombang laut akan semakin besar menghantam daratan. Jika dibiarkan, bukan mustahil wilayah Pantai Pasir Padi akan mengalami pengikisan tanah dan penyempitan garis pantai dalam waktu yang sangat singkat.
 
"Penambangan di dekat bibir pantai itu sama saja dengan menggerogoti tanah kita sendiri. Dasar laut yang berfungsi sebagai penahan gelombang digali habis, maka yang rusak nanti adalah daratan tempat kita tinggal. Ini bukan hanya soal pemandangan, tapi soal keselamatan dan kelestarian lingkungan hidup kita," tambah warga lainnya.
 
Pariwisata Terancam Lumpuh Ekonomi Warga Terpuruk
 
Selain isu lingkungan, keberadaan tambang di kawasan wisata ini dinilai sebagai pukulan telak bagi perekonomian masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Mulai dari pedagang makanan, penyewaan perlengkapan pantai, pengelola tempat wisata, hingga jasa transportasi, semuanya merasakan dampak negatifnya.
 
Wisatawan yang datang kini mulai berkurang drastis. Banyak pengunjung yang kecewa karena pemandangan laut yang terhalang alat berat dan kondisi air laut yang keruh akibat kegiatan pengerukan. Citra Pantai Pasir Padi yang selama ini dibangun keras-keras sebagai destinasi unggulan, perlahan namun pasti mulai ternoda dan kehilangan daya tariknya.
 
"Kalau ini terus dibiarkan, kapan lagi ekonomi kita bisa bangkit? Sektor pariwisata adalah harapan kami selain tambang. Tapi sekarang tambang masuk ke wilayah kami, malah membunuh pariwisata kami. Ini sangat ironis," keluh seorang pedagang di lokasi.
 
Pertanyaan Besar: Di Mana Pengawasan Pemerintah dan Aturan Hukum?
 
Di tengah maraknya aktivitas ini, muncul pertanyaan besar dari masyarakat: Apakah aktivitas penambangan ini memiliki izin resmi? Dan jika ada, apakah izin tersebut mengizinkan operasi di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata?
 
Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kawasan pesisir dan laut yang ditetapkan sebagai kawasan wisata atau kawasan strategis daerah memiliki perlindungan khusus. Penambangan di wilayah tersebut sangat dibatasi, bahkan dilarang jika berpotensi merusak fungsi sosial, ekonomi, dan ekologis kawasan tersebut.
 
Masyarakat pun mempertanyakan peran instansi terkait, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Hingga saat ini, belum ada langkah nyata berupa penertiban, pengawasan ketat, maupun penegakan hukum terhadap para pelaku tambang yang berani beroperasi di kawasan sensitif tersebut.
 
Warga menilai adanya kelemahan pengawasan, bahkan dugaan ketidakpedulian pihak berwenang terhadap nasib aset daerah. Masyarakat pun menuntut adanya transparansi terkait legalitas izin yang dimiliki para penambang tersebut.
 
Desakan Penertiban Segera
 
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan ini, masyarakat dan berbagai elemen masyarakat mendesak Pemerintah Kota Pangkalpinang dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk segera turun tangan. Warga menuntut adanya evaluasi mendalam, penegakan aturan yang tegas, hingga penertiban total jika aktivitas tersebut terbukti ilegal atau melanggar batas wilayah izin.
 
"Kami minta pemerintah hadir. Jangan sampai menunggu pantai ini rusak parah dan tidak bisa diperbaiki baru bertindak. Pantai Pasir Padi adalah milik semua warga Pangkalpinang, bukan milik segelintir penambang yang hanya mementingkan keuntungan sesaat," tegas perwakilan warga.
 
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas penambangan timah di perairan sekitar Pantai Pasir Padi masih terlihat berlangsung aktif tanpa gangguan berarti. Masyarakat terus mengawasi dan berharap ada perhatian serius demi menyelamatkan ikon wisata dan lingkungan hidup Kota Pangkalpinang dari kerusakan yang tidak tergantikan.
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak