Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Breaking News Memuat berita...

SPBU 24.331.153 Pagarawan Dikuasai Kelompok Tertentu? Dugaan Permainan BBM, Antrean Diatur, Hingga Diduga Disalurkan ke Penambang


BANGKA — Kelangkaan BBM bersubsidi yang masih dirasakan masyarakat Bangka Belitung kini memunculkan sorotan tajam terhadap dugaan praktik tidak sehat di SPBU Pertamina nomor 24.331.153, kawasan Pagarawan. Informasi yang dihimpun awak media pada Rabu (14/10/2026) menyebutkan bahwa pengisian BBM di lokasi tersebut diduga tidak berjalan adil, melainkan dikuasai dan dimonopoli oleh kelompok tertentu. 

Hanya untuk "Orang Dalam" dan Balon Ijuk? 

Sumber di lokasi mengungkapkan bahwa pasokan BBM di SPBU tersebut diduga hanya dibagikan kepada lingkaran terbatas — warga Pagarawan dan kelompok yang dikenal dengan sebutan "Balon Ijuk". Sementara masyarakat umum yang membutuhkan justru sulit memperolehnya meski telah mengantre berjam-jam. 

"Yang terlihat berulang kali mengisi itu orang yang sama. Plat nomor diganti, tapi orangnya tetap sama," ungkap sumber kepada awak media. 

Diduga Ada Pungutan di Balik Pengisian BBM 

Lebih mencurigakan lagi, muncul dugaan adanya sistem pembayaran terselubung. Sumber menyebut masyarakat harus membayar sejumlah uang kepada petugas pengisi BBM — atau yang dikenal sebagai "tukang stik" — jika ingin dilayani. Tanpa membayar, warga terpaksa menunggu lama atau pulang dengan tangan kosong meski antrean mengular. 

Akibatnya, BBM bersubsidi yang seharusnya menjadi hak seluruh masyarakat justru habis diambil oleh pihak-pihak yang sama berulang kali. Publik menduga kuat BBM tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan warga, melainkan dijual kembali kepada para penambang dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Masyarakat Desak SIDAK, Tuntut Pengurus Diganti

Kondisi ini membuat masyarakat marah sekaligus kecewa. Banyak yang merasa kebijakan penyaluran BBM di SPBU tersebut tidak transparan dan terkesan tidak tegas dalam pengawasannya. Antrean panjang menjadi pemandangan sehari-hari, namun BBM cepat habis di tangan orang-orang yang sama.

Masyarakat meminta pihak berwenang segera melakukan Pemeriksaan Mendadak (SIDAK) ke lokasi. Jika dugaan pelanggaran terbukti, warga menuntut tindakan tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tak hanya itu, masyarakat juga menuntut agar manajemen dan petugas yang terlibat segera diganti.

"Jika dibiarkan dan tidak ada perubahan di jajaran pengurus, praktik serupa dikhawatirkan akan terus berulang. BBM yang seharusnya milik rakyat tidak bisa dinikmati karena dimonopoli oleh segelintir pihak," tegas warga.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi dan laporan dari masyarakat di lokasi. Redaksi akan berupaya mengonfirmasi hal ini kepada pihak manajemen SPBU maupun Pertamina terkait dugaan yang beredar. Ruang hak jawab tetap terbuka seluas-luasnya bagi pihak yang bersangkutan.(Red) 



Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak