Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Breaking News Memuat berita...

Camat Tempilang Menantang Kerusakan Pantai Pasir Kuning Oleh Aktivitas Tambang Ilegal



Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio

TEMPILANG, BANGKA BARAT — Di pesisir barat Bangka, di mana laut seharusnya menjadi cermin langit dan harapan, sebuah ironi tumbuh perlahan sebagai wisata dibangun di atas luka dan keindahan dipertaruhkan di hadapan kerakusan. Di tengah lanskap yang mulai kehilangan maknanya itu, Camat Tempilang, Rusian, S.Km, M.H.,memilih untuk tidak diam, Jum'at (10/04/2026).

Ia datang bukan sebagai seremoni kekuasaan, tetapi sebagai penanda bahwa batas kesabaran telah dilewati.

Pantai Pasir Kuning, yang dalam dokumen perencanaan disebut sebagai kawasan strategis wisata, kini berdiri di antara dua dunia yang saling meniadakan. Di satu sisi, ia sebagai panggung budaya tempat tradisi Perang Ketupat dirawat sebagai ingatan kolektif. Di sisi lain, ia berubah menjadi halaman belakang aktivitas tambang yang perlahan mengikis bukan hanya pasir, tetapi juga martabatnya.

Sidak yang dipimpin Rusian bukan sekadar inspeksi lapangan. Ia bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang lebih besar dalam kata pembiaran.

Di sepanjang garis pantai, speed boat berjejer seperti simbol ekonomi yang kehilangan arah. Mesin-mesin yang seharusnya menjadi alat produksi berubah menjadi penanda dominasi. Sementara laut, yang dulu jernih, kini memantulkan warna keruh. Sebuah metafora tentang sistem yang tak lagi jernih dalam melihat batas.

“Kawasan ini bukan untuk dikorbankan,” ujar Rusian, suaranya datar namun mengandung tekanan yang sulit diabaikan.

Kalimat itu sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan kritik yang tajam. Bahwa selama ini, yang dikorbankan bukan hanya lingkungan, tetapi juga logika pembangunan itu sendiri.

Dalam banyak kasus, pembangunan seringkali datang dengan janji ekonomi tumbuh, kesejahteraan meningkat. Namun di Pantai Pasir Kuning, janji itu berubah menjadi paradoks. Tambang hadir, tetapi nelayan kehilangan tangkapan. Aktivitas meningkat, tetapi keindahan menghilang. Ruang hidup menyempit, digantikan oleh kepentingan yang bergerak tanpa arah.

Di titik inilah sidak berubah menjadi narasi yang lebih besar tentang siapa yang berhak menentukan masa depan sebuah ruang.

Ultimatum tiga hari yang diberikan oleh Rusian bukan sekadar tenggat administratif. Ia sebagai garis tegas antara dua pilihan bertahan dalam kekacauan atau mulai memperbaiki.

Namun yang membuat langkah ini berbeda adalah apa yang terjadi setelahnya.

Pemerintah kecamatan tidak berhenti pada kata. Mereka bergerak. Pantai yang semula dipenuhi sampah dan ketidaktertiban mulai disentuh oleh tangan-tangan yang ingin memulihkan. Aksi bersih dilakukan, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai tindakan nyata.

Di tengah aktivitas itu, seorang nelayan tua memungut plastik yang terdampar di sela karang. Tangannya kasar, matanya redup, tetapi suaranya jujur.

“Laut ini dulu memberi kami hidup. Sekarang kami harus berjuang untuk sekadar bertahan,” katanya.

Pernyataan itu menggema lebih kuat dari pidato mana pun. Ia mengingatkan bahwa di balik angka produksi dan aktivitas ekonomi, ada manusia yang perlahan kehilangan pijakan.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar sumber daya. Ia sebagai ruang hidup, ruang spiritual, bahkan ruang identitas. Ketika laut rusak, yang hilang bukan hanya ikan, tetapi juga cerita, tradisi dan masa depan.

Dalam konteks ini, langkah Rusian menjadi semacam intervensi bukan hanya terhadap ruang fisik, tetapi terhadap cara pandang. Ia menolak logika bahwa eksploitasi adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan.

“Kita ingin pembangunan yang tidak merusak. Wisata harus hidup, tapi lingkungan juga harus tetap bernapas,” ujarnya.

Pernyataan itu mungkin terdengar normatif. Namun di lapangan, ia menjadi sesuatu yang radikal karena diterjemahkan dalam tindakan.

Apa yang terjadi di Pantai Pasir Kuning sebagai cerminan dari banyak wilayah pesisir di Indonesia ketika regulasi ada, tetapi pengawasan lemah; ketika kesepakatan dibuat, tetapi dilanggar; dan ketika kerusakan terjadi, tetapi dianggap biasa.

Dalam lanskap seperti itu, kehadiran seorang pemimpin yang memilih untuk bertindak menjadi penting. Bukan karena ia menyelesaikan semua persoalan, tetapi karena ia memulai sesuatu yang selama ini tertunda dalam keberanian untuk mengatakan cukup.

Kini, Pantai Pasir Kuning masih dalam proses. Ia belum sepenuhnya pulih. Luka-luka lama masih terlihat. Namun di antara sisa-sisa kerusakan itu, muncul tanda-tanda kehidupan baru sebagai pantai yang mulai bersih, kawasan yang mulai tertata, dan masyarakat yang mulai kembali percaya.

Barangkali, inilah yang paling penting.

Bahwa di tengah narasi besar tentang tambang dan pembangunan, masih ada ruang untuk memilih jalan lain. Jalan yang tidak mudah, tetapi lebih jujur.

Di Tempilang, jalan itu sedang dibuka oleh seorang camat yang memilih untuk tidak sekadar memerintah, tetapi berdiri di garis depan perubahan.
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak