Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
TEMPILANG, BANGKA BARAT - Aktivitas penyelundupan bijih timah di pesisir Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Bangka Barat, diduga berlangsung sistematis dan berulang, memicu kerugian negara serta memperparah krisis yang dialami nelayan setempat, Rabu (01/04/2026). Di tengah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, nelayan menjadi pihak paling terdampak kehilangan ruang tangkap, pendapatan, hingga masa depan.
Di sejumlah titik pesisir Desa Air Lintang seperti Pantai Pasir Kuning, Pantai Selepuk, dan Pantai Belilik, aktivitas tambang laut masih berlangsung, sementara distribusi hasilnya tidak sepenuhnya melalui jalur resmi sebagaimana diatur dalam wilayah IUP. Sejumlah warga menyebut adanya pergerakan karung-karung bijih timah pada malam hari melalui jalur tidak terpantau.
Tidak ada pencatatan.
Tidak ada transparansi.
Tidak ada jaminan bahwa hasil tambang itu kembali memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Berdasarkan pantauan lapangan dan keterangan warga, pola distribusi timah di wilayah ini menunjukkan indikasi penyimpangan dari mekanisme resmi.
Produksi dilakukan oleh ponton-ponton tambang di laut. Bijih kemudian dikumpulkan dalam karung dan dipindahkan ke titik-titik tertentu di darat. Pada malam hari, karung tersebut diangkut menggunakan kendaraan melalui jalur yang minim pengawasan.
Dalam proses itu, sebagian hasil tambang diduga tidak masuk ke titik distribusi resmi.
Artinya, rantai tata kelola terputus.
Menurut kajian Indonesian Center for Environmental Law, praktik seperti ini berpotensi menyebabkan kebocoran penerimaan negara sekaligus menghilangkan hak masyarakat lokal atas manfaat sumber daya.
Di Tempilang, kebocoran itu tidak hanya soal angka.
Ia menjelma menjadi kehilangan nyata bagi nelayan.
Baidi (53), nelayan Desa Air Lintang, berdiri di perairan dangkal dengan joran di tangan. Ia tidak banyak bergerak. Laut di hadapannya tampak tenang, tetapi hasil tangkapan semakin sulit didapat.
“Dulu cukup dekat melaut. Sekarang harus jauh. Biaya naik, hasil belum tentu ada,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah oleh perubahan kualitas air laut. Sedimentasi meningkat, membuat perairan menjadi keruh dan mengganggu habitat ikan.
Menurut laporan WALHI, aktivitas tambang timah di pesisir Bangka Belitung telah menyebabkan degradasi ekosistem laut, termasuk rusaknya terumbu karang dan menyusutnya wilayah tangkap nelayan.
Bagi nelayan, dampaknya bersifat langsung:
Hasil tangkapan menurun
Jarak melaut bertambah
Biaya operasional meningkat
Namun kerugian itu tidak diimbangi dengan kompensasi.
“Kalau lewat jalur resmi, mungkin ada pembagian. Tapi kalau diselundupkan, kami tidak dapat apa-apa,” kata Baharudin (60), ketua nelayan Desa Benteng Kota.
Penyeludupan dan Ketimpangan: Ekonomi Bayangan di Pesisir
Praktik penyelundupan timah tidak hanya berdampak pada negara, tetapi juga memperlebar ketimpangan sosial di tingkat lokal.
Sebagian pihak memperoleh keuntungan besar dari distribusi ilegal. Sementara itu, nelayan kehilangan akses ekonomi yang seharusnya mereka miliki.
Menurut United Nations Environment Programme, ekonomi ilegal dalam sektor sumber daya alam cenderung mempercepat kerusakan lingkungan dan memperparah ketidakadilan sosial.
Di Tempilang, kondisi ini tercermin jelas:
Laut rusak maka nelayan kehilangan penghasilan
Timah bocor maka negara kehilangan pendapatan
Sistem lemah maka masyarakat kehilangan keadilan
Di salah satu akses menuju pesisir, terdapat papan imbauan yang mewajibkan penyerahan hasil produksi ke lokasi resmi.
Namun papan itu dalam kondisi rusak.
Tulisan terbelah. Sebagian hilang.
Simbol itu mencerminkan kondisi yang lebih besar yaitu aturan ada, tetapi tidak berjalan efektif.
Menurut Transparency International, lemahnya pengawasan dalam sektor sumber daya alam sering menjadi pintu masuk bagi praktik ilegal yang sistematis.
Di Tempilang, lemahnya pengawasan membuka ruang bagi aktivitas yang sulit terdeteksi.
Penelitian dari LIPI menunjukkan bahwa tambang laut berdampak pada:
Peningkatan kekeruhan air
Kerusakan habitat ikan
Penurunan populasi biota laut
Gangguan rantai makanan
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan drastis produktivitas perikanan.
Bagi nelayan Tempilang, dampak itu sudah mulai dirasakan saat ini.
Tidak semua nelayan berani berbicara terbuka mengenai kondisi ini.
Sebagian memilih diam.
Bukan karena tidak mengetahui, tetapi karena keterbatasan posisi mereka dalam sistem yang ada.
“Kalau begini terus, kami ini apa?” kata Baidi pelan.
Pertanyaan itu mencerminkan ketidakpastian yang mereka hadapi.
Di penghujung hari, Baidi duduk di tepi pantai. Ia memandang laut yang telah berubah.
Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini menjadi ruang yang penuh ketidakpastian.
“Kalau laut ini terus begini” katanya.
Ia berhenti sejenak.
“Kami kehilangan masa depan.” tutupnya.
Pernyataan itu bukan sekadar keluhan.
Ia adalah peringatan.
Bahwa tanpa penegakan hukum, pengawasan yang konsisten dan perlindungan nyata terhadap masyarakat pesisir, konflik antara tambang dan nelayan akan terus berlanjut. Maka yang paling terdampak akan tetap mereka yang paling lemah.
Tags:
berita
